Kepala KPP (Basarnas) Kendari, Amiruddin AS, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, pihaknya telah menangani sebanyak 63 kasus operasi SAR. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 14,86% jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 74 kasus.
Rincian Data Operasi SAR 2025
Sepanjang tahun ini, kecelakaan kapal dan kondisi membahayakan manusia mendominasi penanganan SAR di wilayah kerja KPP Kendari:
-
Kecelakaan Kapal: 31 Kasus
-
Kondisi Membahayakan Manusia: 31 Kasus
-
Bencana: 1 Kasus
-
Kecelakaan Pesawat: 0 Kasus
-
Total Keseluruhan: 63 Kasus
Dari total operasi tersebut, tercatat jumlah korban jiwa sebanyak 511 orang, dengan rincian: 474 orang selamat, 25 orang meninggal dunia, 11 orang dinyatakan hilang, dan 1 orang masih dalam pencarian.
Tren Kasus Khusus: Konflik Manusia dan Satwa
Basarnas Kendari juga memberikan perhatian khusus pada kasus kondisi membahayakan manusia, terutama insiden diterkam buaya. Pada tahun 2025, terjadi penurunan kasus dibandingkan tahun lalu:
-
Tahun 2025 (2 Kasus): Terjadi di Kab. Konawe Utara dan Kab. Konawe Selatan.
-
Tahun 2024 (3 Kasus): Terjadi di Kab. Konawe Utara, Kab. Buton Tengah, dan Kab. Muna Barat.
Kekuatan Personel dan Kesiapsiagaan
Guna memastikan pelayanan SAR yang prima di seluruh wilayah kerja yang mencakup 4 Pos SAR, 1 Unit Siaga SAR, dan 3 unit kapal, KPP Kendari diperkuat oleh 161 personel yang terdiri dari:
-
ASN: 113 Orang
-
CASN: 28 Orang
-
P3K Penuh Waktu: 10 Orang
-
P3K Paruh Waktu: 10 Orang
Sinergi dan Pembinaan Potensi SAR
Amiruddin menekankan pentingnya peran masyarakat dan instansi samping dalam keberhasilan operasi SAR. Hingga akhir 2025, tercatat sebanyak 544 Potensi SAR telah terdata dan lulus pelatihan.
Selain itu, Basarnas Kendari secara aktif melakukan pembinaan masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan di 5 Kabupaten (Konawe Utara, Kolaka, Bombana, Muna, dan Muna Barat) dengan total peserta mencapai 480 orang.
“Penurunan angka kecelakaan ini merupakan hasil kerja keras bersama dalam edukasi dan kesiapsiagaan. Kami terus berkomitmen untuk memberikan respon cepat (Quick Response) demi keselamatan masyarakat di wilayah Sulawesi Tenggara,” ujar Amiruddin AS. Ys











