SUARAKENDARI.COM– Berkunjung ke Sulawesi Tenggara tidak akan lengkap rasanya tanpa mencicipi Sinonggi. Kuliner tradisional suku Tolaki ini bukan sekadar makanan pokok, melainkan simbol kebersamaan yang telah mendarah daging dalam budaya masyarakat Kota Kendari dan sekitarnya.
Sinonggi berbahan dasar saripati sagu alami. Secara tekstur, makanan ini sekilas mirip dengan Papeda dari Papua atau Kapurung dari Sulawesi Selatan, namun cara penyajian dan pendampingnya memiliki ciri khas tersendiri yang menggugah selera.
Proses Pembuatan: Seni Mengolah Sagu
Membuat Sinonggi sebenarnya cukup sederhana, namun memerlukan teknik “menyiram” yang tepat agar teksturnya kenyal sempurna dan tidak menggumpal. Berikut adalah langkah-langkahnya:
Penyiapan Sagu: Ambil saripati sagu secukupnya, lalu rendam dengan air bersih dingin dalam wadah (biasanya baskom). Biarkan mengendap, lalu buang air rendamannya untuk menghilangkan aroma asam.
Penyiraman: Siram endapan sagu tersebut dengan air yang benar-benar mendidih secara perlahan sambil terus diaduk cepat menggunakan sumpit kayu besar atau alat khusus yang disebut moli.
Pengadukan: Aduk terus hingga warna sagu berubah dari putih susu menjadi bening kecokelatan dan teksturnya berubah menjadi kental serta elastis. Sinonggi siap disajikan selagi panas.
Pendamping Wajib: Rahasia Kelezatan
Sinonggi memiliki rasa yang tawar, itulah sebabnya kekuatan utama kuliner ini terletak pada lauk pauk pendampingnya. Bagi warga lokal, Sinonggi paling nikmat jika disajikan dengan:
Mosonggi (Ikan Kuah Kuning): Biasanya menggunakan ikan palumara atau ikan segar lainnya yang dimasak dengan kuah asam pedas berbahan kunyit, asam jawa, dan belimbing wuluh.
Sayur Bening: Campuran sayur bayam, kacang panjang, dan jagung manis memberikan kesegaran pada setiap suapan.
Sambal Terasi & Jeruk Nipis: Menambahkan sensasi pedas dan asam segar yang memecah kekentalan sagu.
Lauk Tambahan: Beberapa orang juga menyajikannya dengan kerang (tuna) atau daging yang dimasak kuah.
Cara Menikmati yang Unik
Uniknya, Sinonggi tidak dimakan dengan sendok biasa. Penikmatnya akan menggunakan sepasang sumpit untuk menggulung sagu menjadi bulatan kecil, lalu meletakkannya langsung ke dalam piring berisi kuah ikan. Teknik menggulung ini disebut dengan istilah mosonggi.
Bagi wisatawan maupun warga lokal, menikmati Sinonggi di siang hari saat cuaca Kendari sedang terik memberikan kepuasan tersendiri. Selain mengenyangkan, kandungan karbohidrat kompleks dari sagu juga dikenal lebih sehat dan memberikan energi tahan lama.
Jika Anda berada di Kendari, warung-warung Sinonggi dapat dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan kota, menawarkan pengalaman kuliner autentik yang tak terlupakan. (rsw)











