HeadlineHumaniora

Goresan Garis yang Menyatukan Negeri: Menuju Mei sebagai Bulan Indonesia Menggambar

×

Goresan Garis yang Menyatukan Negeri: Menuju Mei sebagai Bulan Indonesia Menggambar

Sebarkan artikel ini
hAri gambar

DI dinding gua purba Kalimantan dan Sulawesi, ribuan tahun lalu, nenek moyang kita telah meninggalkan jejak. Bukan lewat kata-kata, melainkan lewat goresan tangan. Mereka menggambar untuk bercerita, berdoa, dan merekam keberadaan. Hari ini, ribuan tahun kemudian, semangat itu kembali berdenyut, bukan lagi di dinding gua, melainkan di kertas-kertas sketsa, layar digital, hingga tembok-tembok kota di seluruh Nusantara.

Sebuah gerakan besar tengah mengetuk pintu gerbang kebijakan nasional. Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar secara resmi telah menyerahkan naskah akademik kepada Kementerian Kebudayaan RI. Misinya satu: Menetapkan Mei sebagai Bulan Indonesia Menggambar.

Detak Jantung Budaya

Bagi banyak orang, menggambar mungkin dianggap sebagai aktivitas sederhana anak sekolah atau hobi teknis seniman rupa. Namun, bagi tim formatur Indonesia Menggambar 2026, menggambar adalah sebuah “katarsis”.

Dalam naskah akademik yang disusun oleh sosok-sosok seperti EdoPop, Syamsul Barry, dan Hajar Pamadhi, ditegaskan bahwa menggambar memiliki dimensi psikologis yang dalam. Ia adalah medium meditasi, alat pengelola emosi, dan cara manusia menjaga keseimbangan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia. Secara kognitif, selembar garis yang ditarik adalah proses berpikir tingkat tinggi (high order thinking) yang mengasah kreativitas dan motorik sekaligus.

Pemilihan bulan Mei bukanlah tanpa alasan. Mei adalah bulan yang sarat dengan napas perjuangan dan intelektualitas Indonesia. Ia beririsan dengan Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, hingga hari lahir sang maestro modern, Raden Saleh.

Gerakan ini sejatinya bukanlah barang baru yang dipaksakan dari atas. Sejak tahun 2022, komunitas-komunitas dari Sabang sampai Merauke telah bergerak secara organik. Mereka bergotong royong, menghidupkan ruang publik dengan pameran dan workshop, membuktikan bahwa menggambar adalah milik semua orang—inklusif dan tanpa sekat.

hari gambar2

Sambutan Hangat di Meja Menteri

Langkah advokasi ini disambut baik oleh Menteri Kebudayaan, Dr. H. Fadli Zon. Dalam sebuah audiensi strategis, sang Menteri memberikan sinyal hijau. Baginya, inisiasi ini adalah bagian penting dari penguatan literasi visual nasional.

“Dukungan ini bukan hanya untuk seniman, tapi untuk seluruh lapisan masyarakat agar kembali menghidupkan kegiatan menggambar di berbagai sektor kehidupan,” pesan Fadli Zon dalam pertemuan tersebut.

Selain itu, Fadli Zon menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiasi Indonesia Raya Menggambar. Dukungan ini tidak hanya ditujukan kepada para seniman,tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat untuk turut serta menyelenggarakan kegiatan menggambar diberbagai sektor dan ruang kehidupan. dengan semangat kolaboratif ini, diharapkan gerakan menggambar dapat tumbuh semakin luas, inklusi, dan berdampak nyata dalam membangun kesadaran busaya visual di Indonesia.

Sebagai bukti nyata, sebuah hajatan besar telah disiapkan: Pameran Nasional Indonesia Menggambar 2026. Bayangkan, 303 komunitas dari seluruh penjuru negeri akan tumpah ruah di Gallery RJ Katamsi, ISI Yogyakarta pada pertengahan Mei mendatang. Ini akan menjadi ruang pertemuan lintas generasi, di mana tangan-tangan mungil anak sekolah akan bersanding dengan guratan tangan para maestro.

Menghadapi Masa Depan dengan Literasi Visual

Di era kecerdasan buatan (AI) dan realitas virtual saat ini, apakah menggambar masih relevan? Jawabannya: justru semakin krusial. Indonesia Raya Menggambar meyakini bahwa kemampuan memahami dan menciptakan visual adalah fondasi dasar manusia masa depan. Menggambar adalah cara kita tetap “manusia” di tengah kepungan teknologi.

Kini, bola salju itu telah menggelinding. Bulan Indonesia Menggambar bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas, melainkan sebuah gerak kolektif yang sedang menanti pengakuan resmi negara.

Mei akan segera tiba. Melalui semangat inklusivitas, seluruh masyarakat—baik itu pendidik, pelajar, hingga pekerja kantoran—diajak untuk mengambil pensil, krayon, atau gawai mereka. Mari kita kembali ke akar komunikasi paling purba namun paling jujur: menggambar. Karena dalam setiap garis yang kita buat, ada identitas bangsa yang terus tumbuh dan bernapas.

Mari rayakan Mei, mari rayakan garis-garis Indonesia. (SK)

Dilarang Copy Berita dari Website ini