KENDARI, suarakendari.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merilis sejumlah indikator strategis terkini yang mencerminkan perkembangan ekonomi daerah, mulai dari inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor-impor, transportasi hingga sektor pariwisata.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi Sultra, Hadi Susanto, dalam siaran pers yang digelar di Kantor BPS Sultra, Rabu (1/7/2026).
BPS mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Sultra pada Juni 2026 mencapai 4,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,60. Kota Baubau menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi yakni sebesar 5,60 persen dengan IHK 116,58, sedangkan Kabupaten Konawe mencatat inflasi terendah sebesar 2,12 persen dengan IHK 113,78.
Selain itu, Sultra mengalami inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 1,29 persen dan inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) sebesar 4,55 persen.
Kenaikan inflasi dipicu oleh meningkatnya harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 5,88 persen, pakaian dan alas kaki 0,08 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 3,81 persen, serta perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,37 persen.
Kemudian kelompok kesehatan meningkat 0,37 persen, transportasi 6,59 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,22 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,24 persen, pendidikan 3,81 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 2,66 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,55 persen.
Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Tenggara pada Juni 2026 tercatat sebesar 101,61 atau turun 0,03 persen dibandingkan Mei 2026 yang berada pada angka 101,64. Penurunan ini menunjukkan adanya sedikit pelemahan daya tukar petani terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Sementara itu, nilai ekspor Sultra pada Mei 2026 mencapai US$215,93 juta atau mengalami penurunan sebesar 29,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$307,43 juta.
Di sisi lain, nilai impor Sultra pada Mei 2026 justru meningkat signifikan. BPS mencatat nilai impor mencapai US$379,76 juta atau naik 442,47 persen dibandingkan Mei 2025.
Pada sektor transportasi, jumlah penumpang angkutan udara domestik yang berangkat dari Sultra pada Mei 2026 tercatat sebanyak 51.739 orang. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 6,54 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 55.360 orang.
Adapun jumlah penumpang angkutan laut domestik yang naik pada Mei 2026 tercatat sebanyak 109.511 orang atau turun 27,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 150.405 orang.
Sektor pariwisata juga menunjukkan perlambatan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Sultra pada Mei 2026 tercatat sebesar 36,67 persen, menurun 2,37 poin dibandingkan April 2026 yang mencapai 39,04 persen.
Hadi Susanto menegaskan, indikator-indikator tersebut menjadi gambaran kondisi ekonomi daerah yang terus dipantau untuk mendukung pengambilan kebijakan pembangunan dan pengendalian inflasi di Sultra. Ys











