HeadlinePeristiwa

Saat Harapan Bergizi Terhenti di Tiga Dapur Sulawesi Tenggara

×

Saat Harapan Bergizi Terhenti di Tiga Dapur Sulawesi Tenggara

Sebarkan artikel ini
IMG 20250904 WA0002

KENDARI, suarakendari.com – Senyum ceria yang seharusnya merekah saat jam makan siang, kini digantikan kecemasan. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah dengan niat mulia untuk menjamin asupan gizi anak bangsa, justru menyisakan pilu di Sulawesi Tenggara (Sultra).

Rangkaian kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan pelajar telah memaksa Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah pahit: menutup sementara tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut.

Sejak Senin, 29 September 2025, tiga lokasi strategis yang menjadi tumpuan ratusan anak untuk mendapatkan gizi harian, harus menghentikan operasionalnya. Dapur SPPG Buton di Desa Awainulu, SPPG Kota Baubau di Desa Kadolomoko, dan SPPG Konawe di Desa Ambekairi, kini terdiam. Keheningan ini seolah menjadi simbol terputusnya harapan gizi yang sempat dijanjikan.

Penutupan ini merupakan respons mendesak atas serangkaian insiden yang menimbulkan gangguan kesehatan pada pelajar. Catatan kelam dimulai pada Kamis, 11 September, ketika sejumlah murid SDN 55 Buton dilarikan karena keracunan usai menyantap menu MBG. Tak lama berselang, pada Selasa, 16 September, giliran 33 pelajar SMAN 7 Baubau dan 4 siswa SD Integral Hidayatullah Baubau mengalami nasib serupa.

Puncaknya, Rabu, 24 September, 11 siswa SMKN 1 Konawe juga dilaporkan keracunan.
Rentetan kejadian ini bukan hanya soal statistik, melainkan tentang trauma dan ketakutan para orang tua.

“Kami sangat berterima kasih ada program gizi gratis. Tapi setelah kejadian ini, hati kami cemas setiap anak pulang sekolah,” ujar seorang wali murid di Baubau yang enggan disebutkan namanya. Rasa syukur yang bercampur khawatir itu menggambarkan dilema yang kini dihadapi masyarakat.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa penonaktifan sementara ini adalah langkah serius. “Keselamatan masyarakat, terutama anak-anak penerima MBG jadi prioritas utama,” ujar Nanik melalui keterangan resminya, Senin (29/9). Ia menekankan bahwa setiap SPPG wajib mematuhi standar keamanan pangan yang ketat.

Penutupan ini menjadi bagian dari evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang, memberikan sinyal tegas bahwa BGN tidak akan mentolerir kelalaian yang mengancam kesehatan penerima manfaat.

Data per 3 Oktober 2025 menunjukkan Sultra memiliki 117 SPPG yang beroperasi. Dengan dinonaktifkannya tiga dapur ini, fokus pengawasan pun semakin ketat. Diharapkan, proses evaluasi dan perbaikan standar kebersihan serta kualitas bahan pangan di tiga dapur yang bermasalah tersebut dapat segera tuntas.

Di balik penutupan sementara ini, tersemat harapan besar: agar program MBG, yang awalnya didedikasikan untuk membangun generasi sehat dan bergizi, bisa kembali berjalan sesuai cita-citanya. Bukan lagi dengan kekhawatiran, melainkan dengan keyakinan penuh akan makanan yang sehat, aman, dan menyehatkan.

Masyarakat Sultra kini menanti, kapan tiga dapur yang terhenti ini bisa kembali mengepul, menyajikan bukan hanya makanan, tetapi juga kepercayaan akan masa depan gizi anak-anak mereka. Sk

Dilarang Copy Berita dari Website ini