HeadlinePariwisata

Menjaga Nyala Buton: Festival Kabanti, Aksi Nyata Melawan Kepunahan Sastra Tua

×

Menjaga Nyala Buton: Festival Kabanti, Aksi Nyata Melawan Kepunahan Sastra Tua

Sebarkan artikel ini
FB IMG 1759972880401

BAUBAU, suarakendari.com—Di tengah derasnya arus modernisasi yang mengancam kearifan lokal, sebuah upaya gigih sedang dilakukan di jantung kebudayaan Buton.

Kabanti, sastra lisan dan tulisan berupa nyanyian atau syair yang dianggap salah satu yang tertua di tanah Buton, kini menghadapi kenyataan pahit: minimnya minat generasi muda dan ancaman kepunahan. Namun, alih-alih menyerah, Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) mengambil langkah nyata dengan menggelar Festival Kabanti yang berlangsung sejak Selasa (07/10/2025).

Warisan Budaya Takbenda yang Harus Diperjuangkan

Kepala Bidang Kebudayaan Dikbud Kota Baubau, Masrun, S. S. T. P. Par, mewakili Kadis Dikbud Eko Prasetya, ST., MM, menjelaskan bahwa festival ini merupakan jawaban atas amanat Undang-Undang No 5 tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan.

“Kabanti ini bukan hanya mencakup satu objek kemajuan kebudayaan, akan tetapi lebih dari satu, yaitu Bahasa, Seni, serta Manuskrip,” ujar Masrun dalam siaran persnya, Rabu (08/10/2025).

Lebih dari itu, penguatan pelestarian Kabanti menjadi keharusan lantaran Kabanti telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Nasional, khususnya jenis Kabanti Kaluku Panda. Status ini menuntut komitmen serius dari pemerintah daerah untuk menjaga kelestariannya. Festival yang tahun ini memasuki tahun keempat pelaksanaannya ini, digelar hingga hari Kamis (09/10/2025).

Melibatkan Pendidik sebagai Garda Terdepan

Dalam Festival Kabanti kali ini, Dikbud memperlombakan beberapa jenis kabanti yang kaya akan makna historis dan filosofis, antara lain Kabanti Kaluku Panda, Pakeana Arifin, Goroumulabi, dan Tulatula Koburu. Uniknya, sasaran utama festival ini adalah para pendidik.

Seratus peserta yang berpartisipasi adalah guru-guru dari tingkat SD dan SMP. Ini menunjukkan strategi Dikbud yang bertujuan untuk penuntasan pada guru-guru agar mereka menjadi ujung tombak dalam mengenalkan dan mengajarkan Kabanti kepada murid-murid di sekolah.

Tujuannya sangat mendesak. Masrun menyoroti kondisi generasi muda saat ini, “Mengingat zaman sekarang anak-anak mau baca kabanti, bahas Wolio saja mereka jarang menggunakannya baik dilingkup sekolah maupun dilingkup rumah mereka sendiri.”

Kesenian ini, yang berisi sejarah, nilai, dan filosofi kehidupan masyarakat Buton, terancam hilang jika tidak ada transfer pengetahuan dari generasi ke generasi. Melalui pelatihan intensif lewat kompetisi ini, guru diharapkan memiliki kompetensi dan semangat yang cukup untuk menanamkan kecintaan pada sastra leluhur ini kepada siswa mereka.

Harapan Agar Budaya Buton Tak “Hilang Ditelan Zaman”

Dengan suksesnya pelaksanaan Festival Kabanti, Dikbud berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik yang menyalakan kesadaran kolektif. “Pihaknya berharap dengan terlaksananya kegiatan Festival Kabanti dapat menyadarkan masyarakat untuk selalu melestarikan budaya kabanti, baik orang tua, guru-guru terlebih khusus generasi muda,” tutup Masrun.

Festival Kabanti bukan sekadar lomba tahunan, melainkan sebuah protes budaya yang elegan—sebuah perlawanan terhadap kepunahan. Ia adalah penegasan bahwa jiwa dan identitas Buton, yang tertuang dalam setiap syair dan nyanyian Kabanti, harus terus bernyala dan tidak boleh “hilang ditelan zaman.” Sk

Dilarang Copy Berita dari Website ini