SUARAKENDARI.COM-Di balik pesatnya kemajuan teknologi dan ekonomi Tiongkok, tersimpan sebuah istilah yang menjadi momok sekaligus standar bagi banyak pekerjanya: 996. Istilah ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari etos kerja ekstrem yang mendarah daging di perusahaan-perusahaan raksasa Tiongkok.
Apa Itu Sistem 996?
Istilah 996 merujuk pada jadwal kerja di mana karyawan masuk pukul 9 pagi, pulang pukul 9 malam, selama 6 hari seminggu. Jika dikalkulasi, seorang pekerja menghabiskan setidaknya 72 jam di kantor dalam sepekan—jauh melampaui standar jam kerja internasional maupun hukum ketenagakerjaan Tiongkok itu sendiri yang menetapkan 40 jam seminggu.
Sejarah dan Awal Mula
Budaya ini tumbuh subur seiring dengan ledakan industri teknologi (dot-com) di Tiongkok pada awal era 2000-an.
Ambisi Startup: Perusahaan rintisan merasa perlu bergerak lebih cepat daripada kompetitor global untuk menguasai pasar.
Dukungan Tokoh Besar: Budaya ini sempat “direstui” oleh para taipan teknologi. Jack Ma, pendiri Alibaba, pernah menyebut bahwa bisa bekerja dengan sistem 996 adalah sebuah “berkat” bagi para pekerja muda yang ingin sukses.
Puncak Kontroversi (2019): Fenomena ini viral secara global ketika para pengembang perangkat lunak di Tiongkok meluncurkan aksi protes di platform GitHub melalui proyek bertajuk “996.ICU”—sebuah sindiran bahwa bekerja dengan pola 996 hanya akan membawa seseorang langsung ke ruang ICU (Unit Perawatan Intensif).
Dampak Sistem Kerja 996
Penerapan jam kerja yang sangat panjang ini bagaikan pisau bermata dua. Berikut adalah perbandingannya:
Sisi Positif (Dari Perspektif Korporasi)
Akselerasi Pertumbuhan: Perusahaan mampu menyelesaikan proyek dalam waktu singkat, membuat Tiongkok sangat kompetitif secara global.
Inovasi Cepat: Dengan jam kerja lebih lama, siklus trial and error dalam pengembangan produk menjadi lebih pendek.
Pendapatan Tinggi: Bagi beberapa level manajerial, jam kerja ini sering kali dibarengi dengan bonus dan kompensasi yang sangat besar.
Sisi Negatif (Dari Perspektif Pekerja & Sosial)
Masalah Kesehatan: Kelelahan kronis, stres berat, hingga risiko kematian akibat kerja berlebihan (karoshi) menjadi ancaman nyata.
Kehidupan Sosial yang Hilang: Pekerja tidak memiliki waktu untuk keluarga, hobi, atau sekadar beristirahat, yang menyebabkan penurunan angka kelahiran di Tiongkok.
Penurunan Kreativitas: Secara psikologis, bekerja dalam kondisi lelah terus-menerus justru menurunkan kualitas inovasi dalam jangka panjang.
Kondisi Saat Ini
Pemerintah Tiongkok akhirnya mengambil langkah tegas. Pada tahun 2021, Mahkamah Agung Tiongkok secara resmi menyatakan bahwa praktik kerja 996 adalah ilegal karena melanggar undang-undang ketenagakerjaan.
Kini, muncul tren tandingan di kalangan anak muda Tiongkok seperti “Tang Ping” (berbaring datar) dan “Bailan” (biarkan saja membusuk), sebagai bentuk protes terhadap tekanan kerja yang tidak masuk akal tersebut. Mereka mulai memprioritaskan kesehatan mental dan ketenangan hidup di atas ambisi karier yang menguras raga. (Rsw)











