Pertanian

Mengapa Generasi Muda Enggan Bertani? Ancaman Nyata Ketahanan Pangan Indonesia

×

Mengapa Generasi Muda Enggan Bertani? Ancaman Nyata Ketahanan Pangan Indonesia

Sebarkan artikel ini
FB IMG 1753949899364

SUARAKENDARI.COM-Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan sebuah bangsa. Mereka individu yang gigih mengolah lahan untuk menanam berbagai tanaman pangan, perkebunan, atau hortikultura, serta merawat ternak.

Peran petani sangat vital dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat, serta menjaga keberlangsungan ekosistem dan ketahanan pangan nasional.

Namun, di Indonesia, profesi mulia ini tampaknya semakin ditinggalkan generasi muda.
Pada tahun 2023, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan jumlah petani di setiap generasi. Dari total 29,36 juta unit usaha pertanian perorangan, sebagian besar atau 42,39% didominasi oleh Generasi X (usia 43-58 tahun).

Angka ini jelas menunjukkan bahwa sektor pertanian saat ini dikuasai oleh kalangan lanjut usia. Minimnya regenerasi petani dari kalangan muda menjadi masalah utama yang mengancam keberlanjutan pertanian di Indonesia, dan secara perlahan membuat sektor ini kurang efektif.

Kenapa Anak Muda Tidak Mau Jadi Petani?

Generasi muda Indonesia semakin jarang melihat pertanian sebagai pilihan karier yang menarik. Beberapa faktor utama yang menyebabkan minimnya minat ini antara lain:

1. Pandangan tentang Pertanian sebagai Pekerjaan Keras dan Tidak Menjanjikan

Survei JakPat tahun 2022 terhadap 139 responden usia 15-26 tahun mengungkapkan bahwa 12,6% generasi muda menganggap bertani adalah pekerjaan yang berat secara fisik dan tidak memberikan penghasilan yang cukup memadai. Mereka cenderung melihat profesi lain, terutama di sektor perkotaan, jauh lebih menjanjikan dari segi pendapatan dan gaya hidup. Stigma bahwa bertani adalah pekerjaan kotor dan melelahkan masih sangat kuat di benak mereka.

2. Kurangnya Inovasi Teknologi yang Tersedia untuk Petani

Meskipun teknologi pertanian modern mulai berkembang, kenyataannya banyak petani di pedesaan masih menggunakan metode tradisional. Hal ini membuat pertanian tampak tidak menarik dan kurang berkembang di mata anak muda yang lebih tertarik pada teknologi canggih dan inovasi digital. Mereka merasa pertanian ketinggalan zaman dan tidak sejalan dengan perkembangan era digital.

3. Sektor Pertanian Terlalu Berisiko

Sebanyak 33,3% Generasi Z tidak melirik sektor pertanian karena alasan risiko. Mereka menilai sektor ini penuh tantangan, seperti kebutuhan modal besar, ketidakpastian hasil panen akibat cuaca atau hama, dan minimnya pengetahuan teknologi pertanian modern. Generasi ini cenderung memilih karier di bidang lain yang dianggap lebih stabil dan menguntungkan secara finansial, dengan risiko yang lebih terukur.

4. Kurangnya Dukungan Sosial dan Ekonomi

Ketiadaan dukungan yang memadai juga menjadi salah satu alasan anak muda enggan terjun ke pertanian. Dukungan ini mencakup kebijakan yang berpihak pada petani muda, akses permodalan yang mudah, serta pelatihan yang mendukung inovasi pertanian. Tanpa dukungan yang memadai, mereka melihat sedikit peluang untuk berkembang dan mencapai kesuksesan dalam sektor ini.

Upaya Menarik Minat Anak Muda untuk Bertani

Ancaman minimnya regenerasi petani bukan sekadar masalah lokal, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, beberapa langkah konkret perlu diambil untuk menarik minat generasi muda dalam sektor pertanian:

1. Pengembangan Teknologi dan Digitalisasi Pertanian

Mengintegrasikan teknologi seperti Internet of Things (IoT), pertanian presisi, serta penggunaan drone dan sensor di bidang pertanian dapat membuat sektor ini lebih menarik bagi generasi muda. Inovasi digital yang mempercepat proses produksi dan meningkatkan hasil panen bisa menjadi daya tarik tersendiri, menunjukkan bahwa pertanian bisa modern dan efisien.

2. Edukasi dan Pelatihan Pertanian Modern

Pemerintah dan institusi pendidikan harus lebih fokus pada pengembangan program pelatihan dan pendidikan pertanian modern. Melalui pelatihan yang komprehensif, anak muda dapat belajar cara memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di lahan pertanian. Ini akan membekali mereka dengan keterampilan yang relevan dan prospek karier yang jelas.

3. Mengubah Citra Pertanian

Penting untuk mengubah pandangan anak muda terhadap pertanian. Dengan menunjukkan bahwa pertanian adalah sektor yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga berpotensi mendatangkan keuntungan finansial yang besar dan memanfaatkan teknologi canggih, citra pertanian dapat berubah menjadi lebih modern, relevan, dan menarik. Kampanye positif dan kisah sukses petani muda inovatif perlu lebih banyak disebarluaskan.

4. Membangun Komunitas Pertanian Anak Muda

Membangun komunitas pertanian di kalangan anak muda bisa menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan minat mereka. Melalui komunitas, mereka bisa berbagi pengetahuan, pengalaman, serta akses ke berbagai sumber daya. Hal ini akan membuat pertanian terlihat lebih dinamis, kolaboratif, dan menguntungkan, serta menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan petani muda.

Melihat urgensi keberlanjutan sektor pertanian, sudah saatnya kita berinvestasi lebih serius pada generasi muda. Dengan strategi yang tepat dan dukungan penuh, kita bisa menumbuhkan kembali minat mereka pada pertanian, demi masa depan pangan Indonesia yang lebih terjamin.
Sk

Dilarang Copy Berita dari Website ini