Historia

Lukisan Tertua Dinding Goa di Pulau Muna Gemparkan Dunia

×

Lukisan Tertua Dinding Goa di Pulau Muna Gemparkan Dunia

Sebarkan artikel ini
FB IMG 1769177547937

MUNA, suarakendari.com- Indonesia telah dikenal sebagai pusat seni cadas dunia. Sebelumnya telah ditemukan seni gua figuratif dan cap tangan manusia di dua kawasan utama di Indonesia, yaitu karst Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan serta wilayah Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur. Kedua kawasan ini telah lama menjadi rujukan penting dalam kajian global mengenai asal-usul seni manusia modern.

Namun umur dari lukisan gua di kedua kawasan tersebut masih lebih muda dibanding seni cadas tertua yang ditemukan situs Neanderthal di Spanyol. Seperti dilaporkan National Geografic, Para peneliti menentukan gambar cap tangan di gua Spanyol itu berumur 66.700 tahun.
Kali ini sebuah temuan baru muncul kembali dari Indonesia. Tepatnya dari di Liang Metanduno, sebuah gua di Pulau Muna, Sulawesi. Para peneliti dari Indonesia dan Australia baru saja mengungkapkan hasil penelitian mereka bahwa umur gambar stensil tangan di gua tersebut setidaknya adalah 67.800. Ini adalah seni cadas tertua yang pernah diketahui di dunia!

Temuan ini merupakan seni cadas tertua yang pernah tertanggal secara andal, sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sekitar 70.000 tahun lalu. Hasil penelitian ini telah terbit di jurnal nature.

Garis-garis halus tangan yang ditemukan di sebuah gua Indonesia sekarang diyakini berusia setidaknya 67.800 tahun, menjadikannya seni batu tertua yang pernah ditemukan.

Gambar cadas berupa cap tangan berwarna merah ini mengubah pemahaman dunia tentang lini masa kreativitas dan migrasi manusia prasejarah. Nusantara adalah jembatan peradaban, kata peneliti.

Mengenal Gua Metanduno

Gua Metanduno yang terletak di Desa Liangkabhori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, sudah sejak lama menjadi tujuan wisata situs purbakala. Orang-orang mengunjungi gua ini untuk melihat lukisan dinding prasejarah.

Dalam bahasa Muna, “Metanduno” berarti “menyeruduk” atau tindakan menyerang dengan tanduk. Dinamai begitu karena banyak lukisan hewan bertanduk di sana.

Di gua ini, sebagaimana dilaporkan BBC Indonesia, peneliti dari Indonesia dan Australia menemukan lukisan cadas tertua di dunia yang berusia setidaknya 67.800 tahun—sekitar 1.100 tahun lebih tua dari lukisan yang sebelumnya diklaim tertua di dunia di Spanyol.

Penelitian ini juga menguatkan dugaan bahwa nenek moyang kita, Homo sapiens, telah mencapai daratan Australia-Papua Nugini atau Sahul, sekitar 15.000 tahun lebih awal dari yang semula diperkirakan.

Lukisan cap tangan di Gua Metanduno itu dibuat dengan teknik semprot. Prosesnya, seniman prasejarah menempelkan telapak tangannya ke dinding gua dan menyemprot cairan pigmen dengan mulut, sehingga saat tangan ditarik, tercipta garis luar telapak tangan dan jari-jemari.

Tapi yang unik, seniman itu tak berhenti di situ. Bentuk jari tangan itu lalu dimodifikasi menjadi lebih kurus dan panjang hingga jari menyerupai cakar. Ini adalah transformasi kreatif tak biasa.

Prof Adam Brumm, peneliti dari Griffith University yang terlibat dalam proyek ini menyebutnya sebagai “hal yang sangat khas dilakukan manusia”.

Menurut jurnal terbaru ini, karya-karya seni tersebut dibuat dengan pigmen oker yang berasal dari tanah atau mineral yang kaya zat besi untuk menghasilkan warna merah, jingga, dan cokelat. Arang dipakai untuk warna hitam.

Teknik penggambaran umumnya menggunakan kuas, untuk membuat garis luar dan isian warnanya. Sementara, cap tangan dibuat dengan teknik semprot.

Para ilmuwan menentukan usia lukisan dengan metode penanggalan mutakhir laser-ablasi uranium-series (LA-U-series) terhadap lapisan kalsit yang ada di permukaan lukisan.

Teknik ini disebut memiliki tingkat presisi sangat tinggi dibandingkan teknik sebelumnya, uranium series, yang metodenya melibatkan peluruhan radioaktif dari isotop uranium alami.

Dengan metode LA-U-series, peneliti mengambil sampel kalsit (lapisan mineral) yang tumbuh di atas dan bawah pigmen gambar.

Adhi Agus Oktaviana, peneliti gambar cadas BRIN yang juga arkeolog Griffith University, mengibaratkan kalsit yang diambil ini layaknya lapisan-lapisan tipis kulit bawang.

Dengan laser, mereka bisa memetakan gambar di bagian gua mana yang paling tua dengan akurat.

“Temuan di Muna membuktikan bahwa Homo sapiens tidak menunggu sampai mereka sampai di Eropa untuk menjadi seniman,” ujar Adhi.

“Kapasitas berpikir simbolis ini sudah matang di Sulawesi, di Nusantara.”

Gambar-gambar sederhana namun kuat ini mendorong kembali garis waktu ekspresi simbolis manusia selama puluhan ribu tahun. Tangan diciptakan dengan meletakkan tangan di atas batu dan meniup atau membelai pigmen di sekitarnya, meninggalkan kesan negatif hantu di belakang.

Para arkeolog mengatakan penemuan ini juga mendukung perkiraan kapan manusia modern awal pertama kali mencapai Asia Tenggara dan Australia, menunjukkan mereka sudah memiliki pemikiran simbolis yang kompleks sebelum mereka bermigrasi.

Jauh dari sekadar hiasan, tanda-tanda ini mewakili beberapa upaya manusia yang paling awal diketahui untuk meninggalkan pesan, memori, atau tanda tangan di dunia yang membuktikan bahwa seni dan dongeng setua peradaban itu sendiri.

Sk/Natgeo/BBCIndonesia

 

Dilarang Copy Berita dari Website ini