KENDARI, suarakendari.com-
Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka bersama Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., Wakil Menteri dalam negeri, Komjen Pol. (Purn.) Dr. Akhmad Wiyagus, S.I.K., M.Si., M.M. mengunjungi Museum Provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari, Sabtu (12/7/2026) pagi.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menteri Kebudayaan di Sulawesi Tenggara, yang meliputi kehadiran pada Festival Liangkabori ke – IV di Pulau Muna serta kunjungan kerja ke Kota Baubau.
Momentum ini dimanfaatkan untuk mendorong pembenahan museum melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan kalangan filantropi, sehingga Museum Provinsi Sulawesi Tenggara dapat berkembang sebagai pusat pelestarian kebudayaan, edukasi, sekaligus destinasi wisata budaya yang merepresentasikan kekayaan sejarah dan peradaban daerah.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi pengembangan museum daerah setelah Sulawesi Tenggara mencatat sejarah dunia melalui penemuan lukisan gua purba di Liang Metanduno di desa Liangkabori kabupaten Muna yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun, menjadikannya sebagai lukisan figuratif tertua yang pernah ditemukan di dunia.
Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, menyambut baik kunjungan Menteri Kebudayaan dan menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan Museum Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai pusat edukasi, pelestarian budaya, dan destinasi wisata sejarah.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, temuan tersebut membuktikan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki jejak peradaban yang sangat tua sekaligus menyimpan kekayaan budaya yang sangat penting.
“Ini adalah kekayaan budaya yang sangat penting. Sulawesi Tenggara memiliki posisi strategis dalam sejarah peradaban manusia. Karena itu, museum harus mampu menjadi etalase yang menceritakan perjalanan panjang peradaban daerah ini kepada masyarakat Indonesia maupun dunia,” ujarnya.
Menurut Fadli Zon, museum tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, melainkan menjadi ruang edukasi, wisata budaya, sekaligus wajah sebuah daerah. Melalui museum, masyarakat dapat memahami perjalanan Sulawesi Tenggara mulai dari masa prasejarah, etnografi, bahasa, sastra, manuskrip, adat istiadat, pangan lokal hingga kekayaan seni budaya.
Karena itu, Fadli Zon mendorong pembenahan menyeluruh terhadap Museum Provinsi Sulawesi Tenggara, mulai dari penataan ruang pamer, penyusunan alur cerita sejarah (timeline), peningkatan kualitas pencahayaan, penyediaan edukator dan konservator, hingga penyajian koleksi yang lebih modern dan interaktif.
Fadli Zon juga mengusulkan agar replika lukisan gua purba Muna menjadi salah satu ikon utama museum sehingga pengunjung dapat langsung mengenal warisan budaya dunia yang dimiliki Sulawesi Tenggara.
“Kita ingin setiap orang yang datang ke Sulawesi Tenggara terlebih dahulu mengunjungi museum. Dalam waktu satu jam mereka sudah bisa memahami sejarah, budaya, dan identitas daerah ini,” katanya.
Fadli Zon menambahkan, pengembangan museum tidak harus sepenuhnya bergantung pada APBN maupun APBD. Pemerintah pusat akan memberikan dukungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik, sementara pembangunan fisik diharapkan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, dunia usaha, serta kalangan filantropi.
Menurutnya, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa museum yang dikelola secara profesional mampu menjadi destinasi wisata unggulan sekaligus sumber pendapatan yang berkelanjutan melalui tiket masuk, penjualan cendera mata, kuliner, hingga berbagai aktivitas budaya.
Berdasarkan laporan Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tenggara, Lauddin S. Sos., M.Hum., museum saat ini mengelola lebih dari 5.333 koleksi, dengan sekitar 700 koleksi dipamerkan kepada publik. Museum Sultra juga baru saja meningkatkan status akreditasinya dari C menjadi B, namun masih membutuhkan berbagai pembenahan, baik pada tata pamer, fasilitas, maupun penguatan sumber daya manusia.
Berbagai masukan dari Menteri Kebudayaan akan menjadi bagian dari langkah pengembangan museum agar benar-benar menjadi miniatur budaya Sulawesi Tenggara yang merepresentasikan kekayaan etnis, sejarah, tradisi, dan peradaban daerah bagi masyarakat maupun wisatawan. (Dokpim)
Foto : Laode Kaharmin
#AndiSumangerukka
#ASR
#ASR_Hugua
#ASRmembangun
#SultraMajuAmanSejahteraReligius











