KENDARI, suarakendari.com – Target percepatan transisi energi yang digadang-gadang pemerintah tampaknya hanya isapan jempol belaka. Fakta di lapangan menunjukkan kontradiksi yang mencolok, di mana alih-alih mengurangi penggunaan energi kotor seperti batu bara, Sulawesi Tenggara (Sultra) justru didorong menjadi pusat pertambangan nikel dunia, yang berujung pada bencana alam yang tak berkesudahan.
Hal ini terungkap dalam sarasehan jurnalis, CSO, dan akademisi yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari pada 21-22 Maret 2024. Diskusi yang menghadirkan empat narasumber, yaitu Andi Rahman (ED Walhi Sultra), Prof. DR. Laode Aslan M.Sc (Akademisi Universitas Haluoleo), Taslim Dalma (Jurnalis Lingkungan), dan Anas Fadil (Warga Terdampak Tambang), ini menyimpulkan bahwa komitmen pemerintah terhadap transisi energi yang berkeadilan jauh panggang dari api.
“Alih-alih mengurangi penggunaan energi fosil, yang terjadi justru sebaliknya. Hutan-hutan beralih fungsi menjadi kawasan pertambangan, menyebabkan kerusakan dan bencana di mana-mana,” ungkap Andi Rahman.
Bencana banjir bandang yang berturut-turut melanda Konawe Utara, Kabaena, dan Wawonii menjadi bukti nyata kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Dukungan pemerintah terhadap pengusaha batu bara seperti Haji Isam untuk memasok pabrik peleburan nikel di Sultra juga menambah daftar panjang bencana.
Warga Morosi menjadi korban debu batu bara yang menyebabkan tingginya kasus penyakit ISPA, kanker paru, dan kanker kulit. Laporan puskesmas setempat mengonfirmasi adanya peningkatan penyakit ISPA akibat polusi debu batu bara.
“Hilirisasi nikel yang digadang-gadang sebagai solusi transisi energi justru menjadi malapetaka bagi masyarakat. Pendapatan ekonomi warga menurun, konflik sosial terjadi di mana-mana,” ujar Anas Fadil, warga terdampak tambang.
Dari fakta-fakta lapangan ini, dapat disimpulkan bahwa target pemerintah menurunkan transisi energi hanya sebatas wacana. Dalam praktiknya, yang terjadi adalah:
* Hilirisasi nikel
* Penggunaan batu bara yang masif
* Transisi energi yang jauh dari harapan
Sarasehan ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah untuk segera merealisasikan komitmen transisi energi yang berkeadilan. Masyarakat Sultra tidak ingin menjadi korban dari ambisi industri yang merusak lingkungan dan kesehatan mereka. Sk