Environment

Kerusakan Kawasan Hutan Mangrove di Konsel Memprihatinkan

×

Kerusakan Kawasan Hutan Mangrove di Konsel Memprihatinkan

Sebarkan artikel ini
mangrove 3 scaled

mangrove 2 scaled
Konsel, suarakendari.com-Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang pesisir Kecamatan Tinanggea, dan Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan perlahan mulai redup, seiring maraknya pembukaan lahan tambak dan pembangunan pemukiman di sekitarnya. Pohon-pohon mangrove yang dulunya tumbuh subur di sepanjang pantai kini banyak yang hilang, ditebang orang tidak bertanggung jawab untuk berbagai keperluan.

“Setiap hari ada saja pohon mangrove ditebang. Para pelaku memanfaatkan bakau untuk kebutuhan bahan bakar dan juga untuk bangunan rumah,”kata Usman, seorang warga nelayan di pesisir Tinanggea.

Namun, menjadikan bakau sebagai bahan kebutuhan tidaklah sebanding dengan aktifitas pembalakan mangrove secara besar-besaran oleh oknum-oknum yang menguasai lahan. Praktik jual beli lahan menjadi masalah utama pemicu percepatan hilangnya populasi mangrove di sejumlah wilayah di Konsel.

Modus yang pakai pun beragam, dari berpura-pura membuat lahan tambak seorang warga bisa menguasai belasan hingga puluhan hektar lahan di sekitar kawasan pesisir. Kebanyakan dari mereka adalah para pendatang. “Saya heran lahan-lahan di sepanjang pesisir bisa dengan mudah berpindah tangan, padahal setahu saya sepanjang pesisir ini adalah tanah negara,”kataUsman.

Para pelaku dengan sadarnya membongkar kawasan hutan yang berpuluh tahun ditumbuhi ratusan ribu pohon mangrove.

Diperkirakan tersisa sekitar 40 persen hutan bakau di sepanjang pesisir Tinanggea. “Ini tentu sangat memprihatinkan,”kata Salam penggiat lingkungan di Konsel.

Keprihatinan yang sama juga diungkapkan para aktifis lingkungan lainnya. “Rusaknya hutan bakau tak lepas aktifitas pembangunan di sepanjang pesisir, khususnya di bagian selatan hingga timur pesisir konsel,”kata Ilham.

Perintah daerah sultra, bahkan, telah berkali-kali melakukan penataan dan penanaman pohon mangrove disepanjang kawasan pesisir, terutama di sekitar kawasanTinaggea dan kawasan lainnya di Konsel, serta menghimbau agar masyarakat bisa lebih peduli dan tegas terhadap para perusak kawasan mangrove.

Ada banyak manfaat ketika hutan dipertahankan, selain mempertahankan ekosistem perairan laut, keberadaan mangrove juga bisa membantu sebagai pemecah gelombang besar seperti tsunami. Jadi sangat disayangkan kalau mangrove dimusnahkan.

Saat ini hutan bakau juga menjadi sumber kehidupan nelayan-nelayan disepanjang pesisir Tinaggea. Keberadaan hutan mangrove telah membantu ekonomi keluarga mereka, dengan memperoleh banyak sekali hasil laut, seperti kepiting, kerang-kerangan yang bisa dijual ke konsumen. Sk